Olympic

Pro Kontra Joki Cilik dalam Olahraga Berkuda

Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) ikut menyoroti pro dan kontra joki cilik yang berkembang belakangan. Dalam pacuan kuda tradisional, masih banyak yang menggunakannya.

Sorotan diberikan kepada masalah ini setelah adanya korban jiwa dalam pacuan kuda di Bima, Nusa Tenggara Barat. Seorang joki cilik bernama MA alias Peci berusia enam tahun harus meregang nyawa.

Baca juga: Pangkas Kontingen, Indonesia Pasang Target 4 Besar SEA Games 2021

Ketua Umum PP Pordasi Triwatty Marciano menampik soal ini bagian dari eksploitasi anak. Karena di Indonesia fenomena ini masuk dalam kebudayaan daerah.

Banyak fakta yang didapat Triwatty setelah beberapa laga ekshibisi digelar. Menurutnya, banyak hal yang perlu dibenahi demi kebaikan berbagai pihak, termasuk joki anak-anak itu sendiri.

Triwatty bersama Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman dan Bupati Dompu Abdul Kader Jaelani, Dandim 1614 Dompu Letkol Kav. Taufik, S. Sos dan jajarannya masing-masing dan menyaksikan laga ekshibisi pacuan kuda oleh joki anak-anak.

Baca juga: Ahsan/Hendra Incar Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2022

Anak-anak berusia 6-12 tahun pun bergegas mengikuti perlombaan ekshibisi pacuan kuda tradisional yang disaksikan langsung oleh sejumlah pemangku kepentingan. Mereka memacu kuda dengan berlawanan arah jarum jam. Satu kali berpacu, delapan joki beraksi melintasi arena sepanjang sekira 1.200 meter.

Sumber foto: Instagram

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button